five boys sex one girl http:bananocams.com datcam redwap.me sexi video kidnyaping 2beeg.mobi www.xxx big phussi. mom son sex movies on mobile hotmoza.tv xnxx hd videos mp4 rajwap.tv erodrunks.info www xxx hd com gasket oil iporntv.mobi xxx vrfo.com stepsibiling com tubzolina.mobi www.scoul garl sex video ftee dawnload.com bbw waxing freepornfinder.info gay drugged and raped videos erocum.net eroebony.info erocum.info porn-tube-home.net tubenza.com teeny rajwap tubepatrolporn.com sunny sleeping xxx

PERAN FARMASIS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Sabtu, 24 Agustus 2019, KASTRAT Himpunan Mahasiswa Farmasi mengadakan kajian dengan tema “Peran Farmasi Di Era Revolusi Industri 4.0” bertempat di lobby Program Studi Farmasi Universitas Mataram.

Berikut hasil materi kajian yang di isi oleh Muhammad Sahindrawan Firmansyah, S.Farm., Apt.

Revolusi 4.0 tidak memiliki definisi resmi namun merujuk pada integrasi beberapa teknologi menjadi satu (cyber physical system). Ada beberapa teknologi yang mendasari 4.0. Pertama, Logical Layer (artificial intelligence) yang merupakan kecerdasan buatan yang dibuat khusus untuk computer dan handphone . Kedua, Connectivity, ciri khas dari revolusi industri 4.0  seperti Big Data. Dan yang ketiga , Physical Layer , yang bisa diraba, dilihat seperti smart robot, virtual reality. Semua teknologi ini akan memudahkan akses apotek, pencarian khasiat obat oleh pasien, serta tidak menutup kemungkinan akan adanya smart robot yang dapat menggantikan peran  farmasis. Tidak jarang ditemukan masyarakat yang lebih mempercayakan internet apabila menderita suatu penyakit, ataupun memanfaatkan internet untuk meracik obat-obat herbal yang belum jelas diketahui manfaat dan khasiatnya. Bahkan hari ini sudah banyak ditemukan toko obat online yang menjual obat secara ilegal. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat serius bagi farmasis ke depannya.

Bercermin dari hal di atas, maka farmasis perlu bersiap untuk mengahadapi Era Revolusi Industri 4.0 ini. Caranya yaitu dengan up-skilling dan re-skilling . Hal ini penting bagi lulusan farmasis, sehingga tidak hanya belajar materi yang menyebabkan farmasis bekerja di belakang layar, namun perlu mempelajari IT sehingga farmasis tidak akan tertinggal. Selain membawa dampak negatif, revolusi industri 4.0 sebenarnya juga membawa dampak positif  seperti meningkatkan produktivitas , efisiensi dan daya kompetitif. Farmasis dapat memanfaatkan teknologi yang ada untuk mempermudah pekerjaan, seperti mendata pasien menggunakan IT dari pada menyimpannya menggunakan buku yang mudah hilang dan tidak terbaca.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, apakah peran farmasis akan digantikan oleh robotic ? ada 2 kemungkinan yaitu kita bisa digantikan oleh robotic dan peran farmasis  tidak bisa digantikan dengan robotic. Farmasis dapat digantikan dengan robot karena farmasis diam tidak bergerak, tidak mempunyai pengetahuan IT yang mumpuni sehingga tertinggal. Namun,  ketika farmasis belajar IT dan komputasi, artinya farmasis siap menghadapi revolusi industri 4.0.

Beberapa persiapan yang bisa dilakukan farmasis di daerah terpencil guna menghadapi revolusi industri 4.0 :

1 . Mengembangkan penggunaan ilmu komputasi dalam hal pendataan pasien, mengembangkan obat tradisional yang ada di daerah tersebut dengan teknologi, mengedukasi masyarakat tentang cara hidup sehat.

2. Memahami kondisi daerah yang dituju seperti potensi yang dimiliki, upgrade ilmu pengetahuan , melatih soft skill agar mudah berkomunikasi dan dengan mudah mengajak menggunakan teknologi, buku informasi TOGA memahami penggunaan aplikasi yang ada kemudian disosialisasikan kepada masyarakat.

3. Aplikasi pharmaceutical care seperti rekam medik dari keluarga, riwayat penggunaan obat , interaksi obat dan obat yang cocok guna memaksimalkan terapi pasien.

4. Pemanfaatan bahan alam, simplisia, lebih tentang penyuluhan terkait dengan hidup sehat, farmasis harus punya skill untuk mengembangkan teknologi, lebih mengembangkan diri dengan berbagai keterampilan yang dimiliki farmasis, aplikasi mengena DAGUSIBU, memberikan konseling.

5. Sosialisasi melalui medsos, kurang meratanya distribusi obat dapat ditangani dengan daftar obat esensial nasional melalui media digital, sosialisasi by inmed, farmasis harus meningkatkan kemampuan berkomunikasi guna memperbaiki persepsi masyarakat awam, meningkatkan kemampuan IT, meratakan pelayanan kesehatan, pengetahuan teknologi atau perkembangan terbaru. Hambatan farmasis di daerah terpencil yaitu distribusi, komunikasi , ketersediaan obat, tenaga kesehatan dan kepercayaan masyarakat masih minim.

Jayalah  farmasis Indonesia.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *